Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bawa Sabu dari Surabaya, Dua Terduga Pengedar Ditangkap di SPBU Bima
Advertisement . Scroll to see content

Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Desa Teta Bima Kumpulkan Rp20 Juta untuk Aspal Jalan

Selasa, 29 September 2026 | 21:15 WIB
  • author Edy Irawan
Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Desa Teta Bima Kumpulkan Rp20 Juta untuk Aspal Jalan
Warga Desa Teta, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, bergotong royong mengaspal jalan rusak secara swadaya setelah lama menunggu perbaikan pemerintah. (Foto: Edy Irawan/iNewsLombok.id)

BIMA, iNewsLombok.id – Kesal menunggu perbaikan jalan, masyarakat Desa Teta, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), memilih turun tangan memperbaiki jalan rusak secara swadaya.

Puluhan warga bergotong royong mengaspal sejumlah bagian jalan yang selama ini menjadi akses penting masyarakat. Langkah tersebut dilakukan setelah kerusakan jalan dinilai semakin membahayakan pengguna dan disebut telah menyebabkan sejumlah pengendara terjatuh.

Kerusakan jalan di wilayah tersebut disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Warga mengatakan kondisi jalan semakin parah ketika hujan turun karena air menggerus badan jalan.

"Jalan rusak di desa kami memang luput perhatian dari pemerintah daerah. Kondisi seperti ini sudah belasan tahun, dan puncaknya kami menggelar swadaya dan memperbaiki sendiri jalanya setelah baru-baru ini kembali memakan korban," ungkap seorang ibu warga desa setempat, Nurjanah, Selasa (29/9/2026).

Menurut Nurjanah, masyarakat mengumpulkan dana secara swadaya hingga sekitar Rp20 juta. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli kebutuhan material dan mendukung pekerjaan perbaikan jalan serta jembatan.

"Karena memang luput perhatian dari pemerintah, maka jalan ini harus kami perbaiki sendiri dari pada terus memakan korban," kata Nurjanah.

Jalan 50 Meter Diaspal, Jembatan Turut Diperbaiki

Dari hasil swadaya tersebut, warga berhasil mengaspal ruas jalan sepanjang sekitar 50 meter. Selain itu, salah satu jembatan yang sebelumnya mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan secara optimal juga diperbaiki.

"Iya, semua masyarakat desa teta turun bekerja selama 3 hari, dari hari Sabtu hingga Senin kemarin. Kami bekerja bergantian, bergotong-royong hingga malam hari," tuturnya.

Perbaikan mandiri tersebut menjadi bentuk gotong royong warga untuk menjaga akses transportasi tetap dapat digunakan sembari menunggu perhatian pemerintah.

Ruas jalan di kawasan Lambitu juga menjadi akses penting bagi aktivitas masyarakat, termasuk mobilitas anak sekolah, pelayanan kesehatan, perdagangan, serta pengangkutan hasil pertanian.

Laporan terbaru menyebut jalan yang menghubungkan Desa Kuta, Teta hingga Kaowa mengalami kerusakan pada sejumlah titik. Warga dari tiga desa tersebut bahkan telah menyampaikan surat permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Bima agar ruas jalan itu segera diperbaiki.

Kondisi Jalan Kabupaten Bima

Persoalan infrastruktur jalan tidak hanya terjadi di Kecamatan Lambitu. Data yang disampaikan Dinas PUPR Kabupaten Bima pada Juli 2026 menunjukkan tingkat kemantapan jalan kabupaten baru mencapai sekitar 52 persen. Artinya, sekitar 47 persen jalan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah masih berada dalam kondisi rusak dan membutuhkan penanganan.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bima Taufik mengatakan keterbatasan fiskal menjadi salah satu kendala penanganan infrastruktur jalan. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menentukan ruas yang menjadi prioritas penanganan.

Sementara itu, untuk ruas jalan di wilayah Lambitu, kondisi tanah yang bergerak disebut turut mempercepat kerusakan. Camat Lambitu Hafid mengatakan hujan dan kendaraan dengan muatan besar dapat memperparah kondisi badan jalan.

"Karakter tanah di Desa Teta itu bergerak. Sedikit saja turun hujan, kemudian jalan sering dilewati mobil, termasuk truk, kerusakannya semakin parah," ujarnya.

Warga Minta Pemerintah Tidak Hanya Menunggu

Warga berharap aksi swadaya tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah dan pemerintah provinsi. Mereka menilai kemampuan masyarakat untuk memperbaiki jalan secara mandiri memiliki keterbatasan sehingga dibutuhkan penanganan yang lebih permanen.

Dengan adanya aksi gotong royong masyarakat Desa Teta, pemerintah diharapkan dapat melihat langsung kondisi infrastruktur di wilayah pegunungan Lambitu.

"Semoga pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi dapat hadir untuk melihat langsung kerusakan jalan yang mencapai 80 persen di kecamatan lambitu," harap warga lain, Nasywah.

Sebelumnya, warga Desa Kuta, Teta, dan Kaowa juga menyampaikan permohonan kepada Pemerintah Kabupaten Bima agar jalan penghubung ketiga desa tersebut menjadi salah satu prioritas pembangunan. Warga menyebut jalan tersebut penting untuk mendukung pendidikan, pelayanan kesehatan, perdagangan, serta aktivitas pertanian masyarakat.

Bagi masyarakat Lambitu, perbaikan secara swadaya untuk sementara menjadi upaya menjaga akses tetap terbuka. Namun, warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan secara menyeluruh agar kerusakan jalan dan jembatan tidak terus menimbulkan risiko bagi pengguna jalan.

Editor: Purnawarman

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut