Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Gedung DPRD NTB Belum Jelas Anggarannya, Mori Hanafi Minta Anggaran Masuk APBN 2027
Advertisement . Scroll to see content

Atlet Emas PORPROV Belum Aman ke PON 2028, KONI NTB Siapkan Seleksi Ketat

Minggu, 26 Juli 2026 | 10:21 WIB
  • author Ryan Fujiawan
Atlet Emas PORPROV Belum Aman ke PON 2028, KONI NTB Siapkan Seleksi Ketat
Ketua KONI NTB Mori Hanafi. (Foto: Ryan Fujiawan)

LOMBOK, iNewsLombok.id - Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB, Mori Hanafi, menegaskan bahwa atlet yang berhasil meraih medali emas pada Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XII NTB 2026 belum otomatis menjadi bagian dari kontingen Nusa Tenggara Barat pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Menurut Mori, proses pembentukan tim NTB menuju PON 2028 akan dilakukan secara bertahap melalui dua mekanisme seleksi, yakni penentuan cabang olahraga (cabor) yang dinilai berpeluang meraih prestasi, kemudian dilanjutkan dengan seleksi atlet.

Ia menjelaskan, atlet yang telah menyumbangkan medali pada PON Aceh-Sumatera Utara 2024 akan menjadi kelompok yang diprioritaskan dalam pembinaan. Kendati demikian, kesempatan tersebut tetap bergantung pada batas usia dan regulasi yang berlaku di masing-masing cabang olahraga.

"Yang nanti mendapat karpet merah adalah penghasil medali pada PON Aceh dan Sumut yang lalu. Baik medali perunggu, perak, apalagi emas. Tetapi tetap kita akan lihat umurnya," kata Mori Hanafi, Sabtu (25/7/2026).

Selain atlet berprestasi di PON 2024, para peraih medali pada PORPROV XII NTB 2026 juga akan masuk dalam daftar evaluasi untuk pembentukan skuad PON. Namun, raihan medali emas di ajang tersebut tidak menjadi jaminan langsung untuk memperkuat NTB.

"Misalnya medali emas, idealnya peraih medali emas, perak, dan perunggu kita prioritaskan. Tapi nanti kita kembalikan ke pengurus provinsi cabang olahraganya," ujarnya.

Seleksi Berdasarkan Peluang Medali

Mori mengatakan setiap cabang olahraga memiliki tingkat persaingan dan peluang prestasi yang berbeda pada level nasional. Karena itu, KONI NTB memilih menerapkan strategi yang lebih selektif dengan hanya mengirim nomor pertandingan yang memiliki peluang menghasilkan medali.

Sebagai contoh, pada cabang olahraga pencak silat terdapat puluhan nomor pertandingan yang diperebutkan di tingkat nasional. Namun, menurutnya, NTB belum tentu memiliki atlet yang kompetitif di seluruh nomor tersebut.

"Kalau misalnya di cabang silat secara nasional ada 25 nomor pertandingan, NTB tidak kuat di semua nomor. Daripada kita kirim semua 25 nomor, lebih baik kita fokus pada atlet-atlet yang kemungkinan besar bisa meraih medali," jelasnya.

Dalam proses tersebut, KONI NTB juga akan memanfaatkan pendekatan Sports Intelligence, yakni pemetaan kekuatan lawan, analisis peluang, serta evaluasi tingkat persaingan di setiap nomor pertandingan.

Pendekatan itu dilakukan agar keputusan pengiriman atlet lebih objektif dan berbasis data.

"Kita akan cek bagaimana persaingan di kelas tertentu. Kalau ternyata ada juara Asian Games di sana, kalau kita maju juga bisa konyol. Jadi itu yang akan kita lihat," katanya.

Dua Tahap Seleksi Menuju PON

Mori menjelaskan bahwa PORPROV XII NTB menjadi langkah awal untuk memetakan kualitas atlet daerah. Namun, seleksi akhir baru akan dilakukan setelah seluruh rangkaian PORPROV selesai.

"Seleksi final terkait dengan atlet-atlet ini akan kami lakukan setelah PORPROV," tegasnya.

Tahap pertama adalah menentukan cabang olahraga yang layak dipersiapkan menuju PON 2028. Kebijakan ini sejalan dengan arahan Gubernur NTB agar daerah tidak mengirim seluruh cabang olahraga apabila peluang meraih prestasinya minim.

Ia mencontohkan cabang sepak bola wanita. Jika NTB belum memiliki kekuatan yang mampu bersaing di tingkat nasional, maka KONI tidak akan memaksakan keikutsertaan.

"Kalau NTB tidak punya sepak bola wanita, jangan kita paksa ikut. Jangankan dapat medali, mungkin penyisihan saja sudah kalah terus. Kita tidak akan kirim itu," ujarnya.

Setelah daftar cabang olahraga ditetapkan, proses berikutnya adalah memilih atlet terbaik berdasarkan berbagai indikator, mulai dari prestasi, performa terkini, usia, peluang meraih medali, hasil pemetaan lawan hingga rekomendasi dari masing-masing pengurus provinsi cabang olahraga.

"Jadi cabornya dulu, baru atletnya," kata Mori.

Ia menegaskan, medali emas PORPROV tetap memiliki nilai penting sebagai salah satu indikator prestasi. Namun, keberhasilan tersebut bukan tiket otomatis untuk tampil pada PON 2028 karena seluruh atlet tetap harus melewati proses seleksi yang objektif dan kompetitif

PON XXII dijadwalkan berlangsung pada 2028 dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai tuan rumah bersama. Karena berstatus tuan rumah, NTB menargetkan peningkatan prestasi dibandingkan PON sebelumnya.

KONI NTB pun mulai melakukan pemetaan kekuatan atlet sejak PORPROV XII 2026 agar pembinaan dapat dilakukan lebih terarah selama masa persiapan menuju pesta olahraga nasional tersebut.

Editor: Purnawarman

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut