IRGC Ungkap Rudal dan Drone Iran Kini Lebih Siap Dibanding Sebelum Perang dengan AS dan Israel
TEHERAN, iNewsLombok.id – Iran mengklaim telah memperbarui sekaligus mengisi ulang peluncur rudal dan drone mereka dengan kecepatan lebih tinggi dibandingkan sebelum pecahnya konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayor Jenderal Majid Mousavi.
Dalam wawancara dengan Nournews Iran pada Minggu (19/4/2026), Mousavi menegaskan bahwa kekuatan militer Iran saat ini justru semakin siap menghadapi potensi eskalasi perang baru.
“Tidak seperti Iran, musuh belum mampu membangun kembali amunisinya selama gencatan senjata,” kata Mousavi dalam wawancaranya, sebagaimana dikutip dari Middle East Eye, Senin (20/4/2026).
Ia menyebut selama masa gencatan senjata, Iran memanfaatkan waktu untuk memperkuat sistem pertahanan dan ofensifnya, termasuk fasilitas rudal bawah tanah yang menjadi bagian penting dari strategi pertahanan negara tersebut.
“Selama gencatan senjata, kecepatan kami dalam memperbarui dan mengisi ulang landasan peluncuran rudal dan drone bahkan lebih cepat daripada sebelum perang,” ujarnya.
Mousavi menilai kondisi itu berbeda dengan pihak lawan yang disebut masih bergantung pada suplai senjata dari luar kawasan.
“Kami tahu bahwa musuh tidak mampu menciptakan kondisi ini untuk diri mereka sendiri, dan mereka terpaksa membawa amunisi dari sisi lain dunia secara bertahap,” paparnya.
Ia bahkan menilai lawan-lawan Iran mengalami kerugian strategis dalam fase konflik terakhir.
“Mereka kalah dalam tahap perang ini. Mereka kehilangan Selat [Hormuz], Lebanon, dan wilayah tersebut,” imbuh dia.
Pernyataan tersebut disertai video inspeksi fasilitas rudal bawah tanah yang memperlihatkan drone tempur, rudal balistik, peluncur bergerak, hingga proses peluncuran rudal dari daratan.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Teheran menjelang rencana perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Trump menegaskan bahwa Iran harus menerima proposal kesepakatan yang diajukan Washington. Jika tidak, AS disebut siap mengambil tindakan militer besar-besaran.
“Iran memutuskan untuk menembakkan peluru kemarin di Selat Hormuz—Pelanggaran Total terhadap Perjanjian Gencatan Senjata kita!” tulis Trump melalui Truth Social.
Ia juga menyinggung serangan yang disebut mengarah ke kapal Prancis dan kapal dagang Inggris.
“Perwakilan saya akan pergi ke Islamabad, Pakistan—Mereka akan berada di sana besok malam, untuk Negosiasi,” lanjut Trump.
Namun sebelumnya, Teheran telah menegaskan tidak akan ikut dalam perundingan tersebut.
Trump menambahkan bahwa bila Iran menolak kesepakatan, maka konsekuensinya akan sangat berat.
“Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap Pembangkit Listrik, dan setiap Jembatan, di Iran,” tegas Trump.
“TIDAK ADA LAGI TUAN BAIK HATI!” sambung unggahan tersebut.
Situasi semakin rumit karena Iran tetap mempertahankan kontrol ketat terhadap Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi lalu lintas utama sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Data dari Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan lebih dari 17 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz. Penutupan jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu rantai pasok energi internasional.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur tersebut masih bergantung pada langkah Washington.
“Jika Amerika tidak mencabut blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan terbatas,” kata Ghalibaf.
Ia mengakui memang ada kemajuan dalam pembicaraan awal dengan AS, tetapi kesepakatan final masih jauh dari tercapai.
“Tetapi ada banyak kesenjangan dan beberapa poin mendasar masih tersisa. Kita masih jauh dari diskusi akhir,” katanya.
Pengamat geopolitik menilai, ancaman baru antara Iran dan AS berpotensi memicu konflik regional yang lebih luas, terutama jika gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu tidak diperpanjang.
Selain berdampak pada keamanan kawasan Timur Tengah, konflik ini juga akan memengaruhi harga energi global, perdagangan maritim internasional, dan stabilitas politik dunia.
Ketegangan Iran, AS, dan Israel kini menjadi perhatian utama pasar internasional, terutama karena posisi Selat Hormuz yang sangat vital bagi ekonomi global.
Editor : Purnawarman