Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata Sementara, Minta Konflik Dihentikan Total
TEHERAN, iNewsLombok.id – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya hanya akan menerima penghentian konflik secara menyeluruh, bukan sekadar jeda sementara. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi mengungkapkan bahwa komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat memang terjadi, baik secara langsung maupun melalui pihak ketiga. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat diartikan sebagai proses negosiasi resmi.
“Saya menerima pesan dari Witkoff secara langsung, seperti sebelumnya, dan ini tidak berarti kami sedang bernegosiasi,” katanya.
“Tidak ada kebenaran dalam klaim negosiasi dengan pihak mana pun di Iran. Semua pesan disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri atau diterima olehnya, dan ada komunikasi antara badan-badan keamanan,” ujar dia kepada Al Jazeera.
“Kami belum mengirimkan tanggapan apa pun terhadap 15 proposal Amerika, dan kami juga belum mengajukan proposal atau syarat apa pun,” kata dia.
Araghchi menambahkan bahwa hingga kini Iran belum mengambil keputusan terkait kemungkinan membuka jalur negosiasi dengan Washington, mengingat masih adanya keraguan mendalam terhadap proses tersebut.
Di sisi lain, Uni Eropa mulai merasakan dampak serius dari konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan paket kebijakan untuk mengantisipasi gangguan berkepanjangan di sektor energi.
“Secara finansial, 30 hari konflik telah menambah 14 miliar euro pada tagihan impor bahan bakar fosil Uni Eropa,” kata Jorgensen kepada wartawan di Brussels.
Ia menegaskan bahwa dampak konflik tidak akan langsung hilang meskipun perdamaian tercapai dalam waktu dekat.
“Bahkan jika perdamaian terwujud besok, kita tetap tidak akan kembali normal. Infrastruktur energi di kawasan ini telah hancur akibat perang dan terus menerus hancur,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, Uni Eropa berencana menyiapkan sejumlah kebijakan, termasuk penurunan tarif listrik dan jaringan energi, serta skema darurat yang sebelumnya digunakan saat krisis energi tahun 2022.
“Kami juga sedang mempersiapkan berbagai peluang dan kemungkinan yang lebih mirip dengan yang kami gunakan selama krisis pada tahun 2022,” katanya.
Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel berpotensi memperburuk stabilitas global, terutama dalam sektor energi dan keamanan internasional. Beberapa dampak penting yang mulai terlihat antara lain:
Lonjakan harga energi global, terutama minyak dan gas, akibat terganggunya jalur distribusi di Timur Tengah.
Ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi pasar keuangan dunia.
Ancaman terhadap jalur pelayaran strategis, seperti Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berpotensi terdampak kenaikan harga energi impor.
Pengamat menilai bahwa tanpa gencatan senjata permanen, konflik ini bisa berlarut-larut dan memperdalam krisis ekonomi global, terutama di kawasan Eropa dan Asia.
Editor: Purnawarman