get app
inews
Aa Text
Read Next : BREAKING NEWS Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Gantikan Ayatollah Ali Khamenei

Iran Sebut Trump Presiden AS Paling Bodoh: Israel atau Kami, Salah Satu Harus Hilang

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:40 WIB
header img
Tentara Garda Revolusi Iran. (Foto: Istimewa)

TEHERAN, iNewsLombok.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah pejabat tinggi Iran melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang semakin memanas.

Seorang penasihat senior untuk Pemimpin Tertinggi Iran, Yahya Rahim Safavi, menyampaikan kritik tajam terhadap Trump dalam siaran televisi pemerintah Iran pada Rabu. Safavi merupakan penasihat militer senior dari Ayatollah Mojtaba Khamenei.

"Trump adalah presiden Amerika yang paling korup dan bodoh," kata Safavi.

"Dia adalah Setan itu sendiri," katanya lagi.

Pernyataan itu dikutip dari laporan kantor berita internasional AFP pada Kamis (12/3/2026).

Iran Ulangi Ancaman terhadap Israel

Selain menyerang secara verbal kepemimpinan AS, Safavi juga kembali menegaskan posisi Iran terhadap Israel di kawasan Timur Tengah.

"Di kawasan Timur Tengah, Israel dan Iran tidak bisa bersama. Salah satu dari mereka harus tetap ada. Yang akan tetap ada adalah Iran dan yang akan dihancurkan adalah rezim Zionis," paparnya.

Retorika keras tersebut mencerminkan ketegangan yang telah berlangsung puluhan tahun antara Iran dan Israel. Kedua negara memang tidak memiliki hubungan diplomatik dan sering terlibat konflik tidak langsung melalui operasi militer maupun perang proksi di berbagai wilayah Timur Tengah.

Militer Iran Ancam Serang Target Ekonomi AS dan Israel

Pada hari yang sama, militer Iran juga mengeluarkan pernyataan tegas terkait kemungkinan serangan balasan terhadap fasilitas ekonomi milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Komando operasional pusat militer Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, menyatakan bahwa serangan terhadap bank Iran telah memberikan alasan bagi Teheran untuk memperluas target militer.

"Musuh telah memberi kita kebebasan untuk menargetkan pusat-pusat ekonomi dan bank milik Amerika Serikat dan rezim Zionis," kata komando tersebut dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.

Pihak militer juga memperingatkan masyarakat di kawasan Timur Tengah agar menjauhi fasilitas bank dalam radius satu kilometer, karena kemungkinan menjadi sasaran serangan.

Bank di Teheran Dibom, Sejumlah Staf Tewas

Menurut laporan media Iran, serangan yang diduga dilakukan oleh AS dan Israel menghantam sebuah bank di Teheran pada Selasa malam.

Serangan itu dilaporkan menewaskan beberapa staf bank yang sedang bekerja, meski jumlah korban belum diumumkan secara resmi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengutuk keras serangan tersebut.

"Cabang bank tertua di negara saya dibom saat penuh dengan karyawan."

Ia menegaskan bahwa militer Iran akan memberikan respons terhadap insiden tersebut.

"Angkatan Bersenjata kita yang perkasa akan membalas kejahatan ini," imbuh Araghchi melalui platform media sosial X.

Trump: AS Harus “Menyelesaikan Pekerjaan” di Iran

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan berbeda terkait operasi militer yang berlangsung.

Dalam pidato di Hebron, Kentucky, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat harus menuntaskan operasi militernya terhadap Iran.

"Kita tidak ingin pergi lebih awal, bukan? Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini, kan?" kata Trump saat membahas operasi militer AS bersama Israel melawan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump sebelumnya menyebut bahwa konflik dapat segera berakhir karena sebagian besar target militer di Iran telah diserang.

Konflik Timur Tengah Memasuki Fase Berbahaya

Analis geopolitik menilai konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini memasuki fase yang semakin berbahaya. Serangan terhadap infrastruktur ekonomi seperti bank dapat memperluas medan konflik dari target militer menjadi target sipil.

Selain itu, meningkatnya retorika keras dari para pejabat kedua pihak berpotensi memicu eskalasi lebih besar yang dapat berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk jalur energi global seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute perdagangan minyak terpenting di dunia.

Pengamat juga memperingatkan bahwa konflik ini dapat memicu keterlibatan negara-negara lain di kawasan, termasuk sekutu Amerika Serikat maupun kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran.

Editor : Purnawarman

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut