Suksesi Pemimpin Tertinggi Iran Makin Dekat, Majelis Pakar Hampir Sepakat
TEHERAN, iNewsLombok.id – Proses penentuan pemimpin tertinggi baru Iran semakin mendekati titik akhir. Anggota Majelis Pakar Iran, Ayatollah Mohammad-Mahdi Mirbagheri, mengungkapkan bahwa konsensus mayoritas mengenai pengganti almarhum Ayatollah Ali Khamenei hampir tercapai.
Dalam video yang diunggah oleh kantor berita Fars di Telegram, Mirbagheri menyebut bahwa berbagai pembahasan intensif telah dilakukan oleh para ulama yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi negara tersebut.
“Upaya besar untuk menentukan kepemimpinan telah dilakukan dan pendapat yang tegas dan bulat telah tercapai,” kata Mirbagheri.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar anggota Majelis Pakar telah mencapai kesepakatan mengenai figur yang akan menggantikan Khamenei, meskipun masih ada beberapa hambatan teknis yang harus diselesaikan sebelum pengumuman resmi dilakukan.
Ia mengatakan bahwa “beberapa hambatan” perlu diatasi terkait proses tersebut.
Meski konsensus mulai terbentuk, media Iran melaporkan bahwa masih terdapat perbedaan pandangan di internal Majelis Pakar mengenai mekanisme penetapan keputusan akhir.
Sebagian anggota menginginkan keputusan diumumkan melalui pertemuan tatap muka resmi, sementara yang lain menilai keputusan dapat diambil tanpa harus melalui pertemuan formal.
Beberapa ulama diketahui telah melakukan konsultasi secara daring sebelum rapat resmi digelar.
Sejumlah ulama garis keras di Iran mendesak agar pemimpin tertinggi baru segera ditunjuk untuk menjaga stabilitas negara setelah kematian Khamenei.
Ayatollah Agung Naser Makarem Shirazi menilai percepatan penunjukan pemimpin baru penting untuk memastikan pemerintahan berjalan efektif.
Ia mengatakan penunjukan tersebut diperlukan dengan cepat untuk:
“Membantu mengatur urusan negara dengan lebih baik,”.
Selain itu, Ayatollah Agung Hossein Nouri Hamedani juga menyerukan kepada anggota Majelis Pakar agar mempercepat proses pemilihan pemimpin tertinggi yang baru.
Sementara proses suksesi berlangsung, Iran saat ini dipimpin oleh dewan sementara beranggotakan tiga orang yang terdiri dari presiden, seorang ulama senior, dan kepala peradilan.
Dewan ini menjalankan fungsi pemimpin tertinggi secara sementara hingga Majelis Pakar menetapkan pengganti definitif.
Sesuai konstitusi Iran, pemimpin tertinggi harus dipilih dalam waktu maksimal tiga bulan setelah jabatan tersebut kosong.
Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade, dilaporkan tewas dalam serangan militer AS dan Israel di Teheran pada 28 Februari.
Kematian tokoh berpengaruh tersebut memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta meningkatkan tekanan terhadap struktur kepemimpinan Iran untuk segera menentukan pengganti.
Situasi politik Iran juga memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya memiliki peran dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran.
Namun, pernyataan tersebut langsung ditolak oleh pemerintah Iran yang menegaskan bahwa proses suksesi merupakan urusan internal negara.
Anggota Majelis Pakar lainnya, Hojjatoleslam Jafari, menyampaikan harapannya agar proses suksesi segera selesai sehingga masyarakat Iran mendapatkan kepastian politik.
“Penundaan dalam pemilihan pemimpin ketiga ini pahit dan tidak diinginkan oleh semua orang, dan tidak ada alternatif lain, jadi kita tidak boleh memiliki pikiran buruk tentang perwakilan kita pada saat yang sulit ini,” katanya.
Dalam sistem politik Iran, Pemimpin Tertinggi merupakan posisi tertinggi dalam struktur negara. Jabatan ini memiliki kewenangan luas, termasuk mengendalikan kebijakan militer, keamanan nasional, peradilan, dan arah politik negara.
Karena itu, keputusan Majelis Pakar untuk menentukan pengganti Khamenei akan menjadi momen penting bagi masa depan politik Iran, sekaligus mempengaruhi dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Editor : Purnawarman