Petani Sembalun Tinggalkan Benih Impor, Pilih Kentang Chitra untuk Tingkatkan Produksi

Ryan Fujiawan
Petani di Sembalun, Lombok Timur, mengembangkan kentang varietas Chitra sebagai alternatif benih impor sekaligus mendukung penguatan kentang industri NTB. (Foto: iNews.id)

Saat itu, pengembangan melibatkan 76 petani dengan luas tanam sekitar 100 hektare dan potensi perluasan hingga 250 hektare. Produktivitas panen dilaporkan meningkat dari sekitar 17 ton menjadi 19 ton per hektare.

Pengembangan tersebut juga melibatkan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Pertanian, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, PT AIMS sebagai penyedia benih Chitra, serta mitra industri sebagai offtaker.

Dalam ekosistem tersebut, kentang tidak hanya diposisikan sebagai komoditas segar, tetapi juga sebagai bahan baku industri pengolahan. Model kemitraan seperti ini diharapkan dapat memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

Kementan Tinjau Produksi Benih di Sembalun

Potensi pengembangan benih kentang di Sembalun turut mendapat perhatian pemerintah pusat.

Perwakilan Kementerian Pertanian, Endar Hery Susanto, melakukan peninjauan langsung ke lokasi penangkaran dan industri benih kentang di kawasan tersebut.

Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung proses produksi sekaligus memastikan mutu benih yang dihasilkan penangkar dalam negeri.

"Kita datang mau memastikan bagaimana produksinya,kualitasnya.Jadi namanya kentang sudah diproduksi dengan sertifikasi,berarti kentangnya berkualitas.Ke depan harapan kita bisa mandiri benih,dari panganlah bangsa kita bisa mandiri dan kuat,ujar Endar di sela-sela peninjauan di Sembalun.

Pemerintah mendorong agar kapasitas penangkaran benih dalam negeri terus diperkuat. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap benih impor sekaligus membangun sistem perbenihan yang lebih berkelanjutan.

Ketergantungan Benih Impor Jadi Tantangan

Pengembangan kentang industri di Sembalun juga berkaitan dengan persoalan ketergantungan terhadap benih dari luar negeri.

Dalam pengembangan sebelumnya, Kementerian Pertanian dan mitra usaha menilai kebutuhan benih kentang industri masih menjadi salah satu tantangan. Karena itu, penguatan produksi benih dalam negeri menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kentang industri.

Data pengembangan 2025 menunjukkan produktivitas petani yang menggunakan sistem perbenihan dan budidaya yang lebih terarah mampu mencapai sekitar 19 ton per hektare, meningkat dari 17 ton per hektare sebelumnya. Peningkatan tersebut juga disebut berdampak terhadap pendapatan petani.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan benih lokal tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan benih, tetapi juga produktivitas dan nilai ekonomi yang diterima petani.

Sembalun Jadi Sentra Kentang Industri

Sembalun memiliki posisi strategis dalam pengembangan hortikultura NTB karena berada di kawasan dataran tinggi dengan kondisi agroklimat yang mendukung budidaya berbagai komoditas sayuran.

Data BPS menunjukkan luas panen kentang NTB pada 2025 mencapai 143 hektare. Data tersebut mencakup produksi kentang di seluruh kabupaten/kota di NTB.

Pengembangan sentra kentang industri di Sembalun diharapkan dapat memperkuat posisi NTB dalam rantai pasok pangan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan petani.

Tidak hanya menghasilkan kentang konsumsi, pengembangan perbenihan juga menjadi peluang untuk membangun mata rantai usaha dari produksi benih, budidaya, pengolahan hingga pemasaran.

Benih Lokal Diharapkan Kurangi Risiko Petani

Bagi Musnaeli dan petani lainnya, persoalan benih bukan sekadar masalah ketersediaan. Kualitas benih sangat menentukan keberhasilan produksi sejak awal musim tanam.

Benih yang tidak tumbuh atau tidak sesuai dengan kondisi lahan dapat meningkatkan risiko kerugian karena petani harus menanggung biaya pengolahan lahan, tenaga kerja, pupuk dan perawatan tanpa memperoleh hasil optimal.

Karena itu, tersedianya benih yang diproduksi dan dikembangkan di dalam negeri dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi risiko tersebut.

Pengembangan Chitra juga membuka peluang bagi petani Sembalun untuk lebih terintegrasi dengan kebutuhan industri pengolahan. Dengan adanya kepastian standar produk dan pasar, petani tidak hanya bergantung pada fluktuasi harga kentang konsumsi.

Dorong Kemandirian Benih Kentang

Pemerintah berharap penguatan sentra perbenihan di Sembalun dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan nasional.

Bagi petani, keberhasilan program tersebut akan sangat ditentukan oleh kualitas benih, produktivitas di lapangan, kepastian pasar, pendampingan teknologi, serta kemampuan menjaga keberlanjutan produksi.

Dari kawasan kaki Gunung Rinjani, pengembangan kentang Chitra kini tidak hanya menjadi pilihan petani untuk meninggalkan pengalaman buruk dengan benih impor. Lebih jauh, pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok kentang industri yang melibatkan petani lokal dari hulu hingga hilir.

Jika produksi benih dalam negeri semakin kuat dan produktivitas petani terus meningkat, Sembalun berpeluang menjadi salah satu sentra penting kentang industri sekaligus perbenihan di NTB.

Editor : Purnawarman

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network