KATHMANDU, iNewsLombok.id - Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah Rasuwa, Nepal, dekat perbatasan dengan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026). Bencana yang membawa arus air, lumpur, batu, dan material longsoran itu menimbulkan kerusakan besar serta menewaskan sedikitnya 97 orang berdasarkan data awal yang dilaporkan otoritas Nepal.
Selain korban meninggal, sedikitnya 384 orang dilaporkan belum ditemukan. Mereka terdiri atas warga Nepal, wisatawan asing, pekerja proyek, serta personel keamanan. Sebanyak 54 orang berhasil diselamatkan dari kawasan terdampak.
Banjir menerjang kawasan Timure dan Syabrubesi di Distrik Rasuwa sebelum alirannya bergerak ke wilayah yang lebih rendah melalui sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli. Kawasan tersebut merupakan jalur penting menuju perbatasan Nepal-China sekaligus pintu masuk menuju kawasan trekking Langtang.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan derasnya arus yang menerjang permukiman. Sejumlah bangunan beberapa lantai terlihat tersapu air, sementara jembatan dan kendaraan ikut terbawa derasnya material banjir.
Ratusan Orang Masih Hilang
Pejabat Nepal menyebut 384 orang masih belum diketahui keberadaannya. Data tersebut mencakup 291 warga negara asing dan 93 warga Nepal dalam laporan awal Nepal Tourism Board. Sejumlah personel keamanan dan pekerja pembangkit listrik juga termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan.
Wisatawan asing yang dilaporkan hilang berasal dari sejumlah negara. Proses pencarian dan identifikasi masih berlangsung karena komunikasi serta akses menuju beberapa kawasan terdampak mengalami gangguan.
Tim penyelamat menghadapi medan yang sulit dan kondisi cuaca yang tidak mendukung. Sejumlah wilayah hanya dapat dijangkau melalui operasi pencarian dan evakuasi khusus.
Infrastruktur Hancur
Dahsyatnya banjir menyebabkan kerusakan luas terhadap infrastruktur di sepanjang aliran sungai. Data awal menunjukkan sedikitnya 19 jembatan rusak atau hanyut, sedangkan sekitar 40 kilometer ruas jalan terdampak. Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air juga mengalami kerusakan.
Kawasan Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Gorkha, dan Chitwan termasuk daerah yang terkena dampak aliran banjir dan material yang terbawa dari wilayah hulu.
Banjir juga menerjang kawasan perbatasan dan fasilitas perdagangan di Rasuwagadhi. Sejumlah kendaraan, barang, bangunan, dan fasilitas umum dilaporkan tersapu arus.
Penyebab Banjir Masih Diselidiki
Pemerintah Nepal sebelumnya mengaitkan bencana dengan gempa bumi bermagnitudo 4,4 yang terjadi di wilayah Tibet pada Rabu pagi. Namun, perkembangan penyelidikan menunjukkan penyebab pasti banjir masih belum dapat dipastikan.
US Geological Survey (USGS) mencatat gempa berkekuatan M4,4 terjadi sekitar pukul 08.37 waktu setempat di wilayah Tibet, dekat perbatasan Nepal.
Sejumlah ahli menduga longsoran es atau batu dari kawasan pegunungan tinggi mungkin telah membendung aliran sungai dan membentuk danau sementara. Ketika bendungan alami tersebut jebol, air dalam jumlah besar kemudian bergerak cepat ke hilir.
Pakar juga masih menyelidiki kemungkinan terjadinya glacial lake outburst flood (GLOF), yakni banjir yang terjadi akibat jebolnya danau glasial. Namun, otoritas Nepal menegaskan penyebab final membutuhkan pemeriksaan dan data lebih lanjut.
"Akibat banjir tersebut, sejumlah besar proyek PLTA, kantor pemerintah, dan fasilitas jalan hancur total," kata Menteri Luar Negeri Nepal Sishir Khanal.
Ada Risiko Banjir Susulan
Laporan teknis awal Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal menyebut risiko di bagian hulu Sungai Bhote Koshi belum sepenuhnya hilang. Sebuah danau sementara yang terbentuk akibat material yang membendung sungai dilaporkan belum sepenuhnya terbuka.
Karena itu, pemantauan terhadap sistem sungai Bhote Koshi-Trishuli-Narayani terus dilakukan. Warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai diminta tetap berada di lokasi aman sampai situasi dinyatakan terkendali.
Bencana tersebut terjadi hanya sekitar satu tahun setelah banjir mendadak juga menerjang kawasan Bhote Koshi pada Juli 2025. Saat itu, analisis otoritas Nepal menyimpulkan banjir dipicu oleh jebolnya danau glasial di kawasan Lhende dekat perbatasan Nepal-China.
Hingga Kamis (27/8/2026), operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Pemerintah Nepal bersama aparat keamanan dan tim penyelamat terus menyisir kawasan terdampak untuk menemukan korban yang masih hilang serta mengevakuasi warga dari wilayah yang berisiko.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
