Dalam sistem politik Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Pakar, sebuah badan ulama senior yang memiliki kewenangan menunjuk dan memberhentikan pemimpin tertinggi. Kandidat harus merupakan ulama Syiah berpengaruh dengan legitimasi keagamaan dan politik yang kuat.
Pada perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni tahun lalu, Khamenei sempat menyebut tiga nama yang dapat segera diangkat sebagai penggantinya jika terjadi situasi darurat.
Trump sendiri mengklaim mengetahui sosok yang layak menggantikan Khamenei.
“Saya tahu persis siapa, tetapi saya tidak bisa memberi tahu Anda,” ujarnya kepada wartawan.
“Ada beberapa kandidat yang baik,” tambahnya tanpa merinci nama.
Empat Tokoh Berpeluang Jadi Pengganti Khamenei
Sejumlah nama mencuat sebagai kandidat kuat penerus kepemimpinan Iran:
1. Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i
Kepala peradilan Iran ini dikenal sebagai figur konservatif dengan pengalaman panjang di sistem hukum dan keamanan nasional.
2. Hassan Khomeini
Cucu pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia dikenal lebih moderat dibandingkan banyak ulama senior lainnya dan memiliki simbolisme revolusioner yang kuat, meski minim pengalaman di jabatan publik strategis.
3. Hashem Hosseini Bushehri
Ulama senior yang menjabat sebagai wakil ketua pertama Majelis Pakar. Ia memiliki kedekatan dengan lingkaran elite ulama dan dikenal menjaga profil rendah.
4. Alireza Arafi
Wakil ketua Majelis Pakar yang juga pernah menjadi anggota Dewan Wali. Ia memiliki reputasi kuat di bidang keagamaan dan pendidikan seminari Iran.
Selain itu, nama Mohammad Mehdi Mirbagheri juga disebut sebagai figur garis keras yang berpengaruh di kalangan konservatif.
Sementara Mojtaba Khamenei, putra kedua Khamenei, disebut memiliki peluang kecil. Sang pemimpin tertinggi sebelumnya menegaskan tidak menginginkan sistem kepemimpinan diwariskan secara turun-temurun.
Dampak Politik dan Geopolitik
Kematian Khamenei berpotensi mengubah peta politik Timur Tengah. Iran selama ini menjadi aktor kunci dalam berbagai konflik regional, termasuk di Suriah, Lebanon, dan Yaman. Transisi kepemimpinan bisa memengaruhi hubungan Iran dengan Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara Teluk.
Selain itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) diperkirakan akan memainkan peran signifikan dalam menjaga stabilitas selama masa transisi. Pengaruh militer dalam proses suksesi menjadi perhatian komunitas internasional.
Analis politik menilai, siapa pun yang terpilih nantinya akan menghadapi tantangan besar: tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, ketidakpuasan publik, serta ketegangan geopolitik yang meningkat.
Editor : Purnawarman
Artikel Terkait
