Miris! Siswa di Pelosok NTB Tempuh 2 Jam Jalan Kaki Demi Sekolah
LOMBOK, iNewsLombok.id - Puluhan anak di Kampung Penggel, Desa Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, masih menghadapi keterbatasan akses jalan menuju sekolah. Kondisi infrastruktur yang buruk membuat mereka harus berjalan kaki selama berjam-jam setiap hari demi mendapatkan pendidikan.
Fakta ini terungkap saat kunjungan Bunda Literasi NTB, Sinta M. Iqbal, bersama komunitas pendidikan dalam kegiatan sosial di wilayah tersebut.
Ketua komunitas Tastura Mengajar, Gitan, mengungkapkan bahwa kondisi jalan yang rusak parah menjadi hambatan utama bagi anak-anak.
"Ada puluhan anak-anak Panggel yang belum merasakan akses jalan yang layak. Mereka harus berjalan kaki selama berjam-jam untuk dapat sampai sekolah. Saat musim hujan tiba, kondisi jalan yang rusak parah bahkan membuat anak-anak Panggel, tidak bisa berangkat ke sekolah sama sekali," ungkap Gitan, Senin (4/5/2026).
Kondisi jalan tanah yang licin dan berlumpur saat hujan menyebabkan akses menuju sekolah menjadi sulit bahkan terputus. Akibatnya, tingkat kehadiran siswa sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca.
Berdasarkan data tambahan dari Dinas Pendidikan NTB (estimasi wilayah terpencil), rata-rata anak di daerah pelosok harus menempuh jarak 3–7 kilometer untuk mencapai sekolah, dengan waktu tempuh mencapai 1 hingga 2 jam berjalan kaki.
Situasi ini juga berpotensi meningkatkan angka putus sekolah, terutama di tingkat pendidikan dasar.
Kunjungan Bunda Literasi NTB tersebut dikemas dalam kegiatan bertajuk “Bergerak di Selatan, Spesial Aksi di Hardiknas” yang berlangsung pada belum lama ini di Gubuk Panggel.
Dalam kegiatan ini, bantuan berupa alat tulis dan buku bacaan diberikan kepada anak-anak sebagai bentuk dukungan moral terhadap pendidikan di wilayah terpencil.
Sinta menegaskan bahwa keterbatasan akses tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk bermimpi dan meraih masa depan.
"Berjalan 2 jam bolak balik sekolah. Tapi Insyaallah, mereka akan menjadi anak-anak NTB yang bermanfaat dan berguna dimasa depan," ujar Sinta.
Ia juga menambahkan bahwa anak-anak di pelosok memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di perkotaan.
Selain berinteraksi dengan siswa, Sinta juga berdialog langsung dengan masyarakat setempat guna menyerap aspirasi dan mengidentifikasi kebutuhan mendesak, terutama terkait akses infrastruktur dan pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, ia bahkan ikut berjalan bersama anak-anak saat pulang sekolah untuk merasakan langsung kondisi medan yang mereka hadapi setiap hari.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur dasar di wilayah terpencil. Akses jalan yang layak menjadi kunci utama untuk membuka akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.
Jika tidak segera ditangani, ketimpangan akses pendidikan antara wilayah kota dan pelosok dikhawatirkan semakin melebar.
Editor : Purnawarman