Gubernur NTB Iqbal Klaim Lunasi Utang Rp210 Miliar
Iqbal optimistis, hingga akhir masa jabatannya pada 2029, angka kemiskinan di NTB dapat ditekan hingga satu digit atau sekitar 10 persen, dari posisi saat ini yang masih berada di kisaran 11 persen.
Data terbaru menunjukkan tren positif. Pada September 2025, angka kemiskinan NTB berada di 11,38 persen, menurun dari Maret 2025 sebesar 11,78 persen dan September 2024 sebesar 11,91 persen. Capaian ini bahkan melampaui target nasional.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, NTB mencatat peningkatan signifikan:
3,22 persen (dengan sektor tambang)
8,33 persen (tanpa sektor tambang)
Sektor pariwisata tumbuh lebih dari 7 persen, sementara sektor pertanian mencapai 5,33 persen, mendekati target yang ditetapkan.
“Nilai Tukar Petani NTB juga mengalami peningkatan signifikan, menjadi salah satu yang tertinggi secara nasional,” katanya.
Beberapa indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan perbaikan:
Kontribusi NTB ke ekonomi nasional: 0,84 persen
Industri pengolahan: naik menjadi 6,69 persen
Indeks Pembangunan Manusia (IPM): 73,97 (kategori tinggi)
Tingkat pengangguran terbuka: 3,05 persen (di bawah rata-rata nasional)
Iqbal juga memaparkan kinerja fiskal daerah di hadapan DPRD NTB. Realisasi pendapatan daerah tahun 2025 mencapai Rp6,476 triliun atau 99,79 persen dari target Rp6,498 triliun.
“Pendapatan daerah pada tahun anggaran 2025 terealisasi sebesar Rp 6,476 triliun atau 99,79 persen dari target Rp6,498 triliun dan menurun sebesar 2,19 persen dari realisasi tahun 2024 sebesar Rp 6,621 triliun,” ujarnya.
Rincian pendapatan meliputi:
PAD: Rp2,759 triliun (98,21% dari target)
Dana transfer: Rp3,537 triliun (melampaui target)
Pendapatan lain-lain: Rp179,71 miliar
Sementara dari sisi belanja:
Total belanja: Rp6,051 triliun (93,14%)
Belanja operasional: Rp4,569 triliun
Belanja modal: Rp536,12 miliar
Belanja transfer: Rp841,75 miliar (100%)
Iqbal mengakui adanya penurunan pendapatan daerah dibandingkan tahun sebelumnya. Oleh karena itu, ia meminta dukungan DPRD NTB untuk mempercepat revisi regulasi terkait pajak dan retribusi daerah.
“Terkait dengan pendapatan ini, pada kesempatan ini kami memohon dukungan dari seluruh pimpinan dan seluruh anggota dewan untuk dapat melakukan percepatan revisi perda mengenai retribusi, karena ini sangat penting bagi kita dalam rangka meningkatkan pendapatan,” katanya.
PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur) adalah lembaga pembiayaan milik pemerintah pusat yang sering digunakan daerah untuk pembiayaan proyek strategis.
Program Desa Berdaya berpotensi mendorong ekonomi berbasis komunitas melalui UMKM, pertanian, dan pariwisata desa.
NTB dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi besar di sektor pariwisata halal dan ekowisata, seperti kawasan Mandalika dan desa wisata berbasis budaya lokal.
Penguatan PAD melalui revisi pajak dan retribusi menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan pada dana transfer pusat.
Editor : Purnawarman