Iran Sebut Militer AS Macan Kertas, Klaim Kekuatan Melemah di Timur Tengah
“AS mendukung blokade Gaza oleh Israel, memotong bantuan dengan dalih ‘keamanan’, namun mengutuk Iran karena membela diri di Selat Hormuz. Standar ganda: kejahatan Israel dianggap wajar sementara pembelaan Iran terhadap agresor dikutuk. Hukum internasional bukanlah alat yang mudah digunakan.”
Ia bahkan menyinggung praktik propaganda politik Amerika di masa lalu dengan merujuk pada tokoh komunikasi massa seperti Edward Bernays dan Walter Lippmann.
“Dikatakan bahwa Edward Bernays... bekerja untuk membantu Woodrow Wilson menggalang dukungan rakyat Amerika untuk perang di Eropa… ‘Kita dapat menjual perang kepada publik’.”
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan bahwa Presiden AS, Donald Trump, menerima paparan video terkait operasi militer tertentu.
Kritik terhadap Amerika Serikat juga datang dari jajaran militer Iran. Juru bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menyebut kondisi pasukan AS di kawasan semakin tertekan.
“Amerika terpaksa untuk pertama kalinya meninggalkan pangkalan mereka dan menginap di hotel.”
Ia menegaskan bahwa tekanan terhadap militer AS terus meningkat.
“Perlawanan mengejar Amerika di kawasan tersebut untuk membalas dendam terhadap mereka.”
Dalam pernyataan yang lebih tajam, ia bahkan menyebut:
“Tentara AS hanyalah macan kertas.”
Iran juga mengklaim telah melakukan serangkaian operasi militer terhadap instalasi militer AS di kawasan.
“Sejauh ini operasi tersebut telah mengakibatkan hancurnya 17 pangkalan Amerika di wilayah tersebut.”
Menurut Shekarchi, tekanan tersebut memaksa militer AS mengubah strategi operasional, termasuk menjalankan misi dari jarak jauh.
Ia juga menegaskan konflik belum akan berakhir dalam waktu dekat.
“Penghentian perang tidak akan mungkin terjadi kecuali setelah tercapainya kondisi yang diusulkan.”
“Kembali ke situasi sebelum 28 Februari akan membutuhkan waktu bertahun-tahun.”
Sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam distribusi energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap hari.
Ketegangan antara Iran dan AS di kawasan ini berpotensi berdampak besar terhadap:
Harga minyak global
Stabilitas keamanan Timur Tengah
Arus perdagangan internasional
Selain itu, negara-negara GCC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar menjadi wilayah strategis yang kerap menjadi basis militer AS, sehingga rentan terhadap eskalasi konflik.
Editor : Purnawarman