Iran Bantah Klaim Trump soal Diplomasi, Sebut Tak Ada Negosiasi
Program nuklir Iran menjadi titik utama perselisihan antara kedua negara. Sejumlah perundingan sebelumnya tidak menghasilkan kesepakatan permanen, bahkan berujung pada eskalasi konflik.
Kegagalan tersebut memperkuat pandangan Iran bahwa komitmen Washington tidak konsisten dan sulit dipercaya dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Trump tetap menyatakan bahwa jalur diplomasi masih terbuka dan sedang berlangsung. Ia menyebut sejumlah pejabat tinggi Amerika terlibat dalam proses tersebut, termasuk Marco Rubio dan JD Vance.
Trump juga mengklaim adanya perkembangan positif dalam pembicaraan terbaru.
Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada pembicaraan resmi antara Iran dan Amerika Serikat.
Ghalibaf bahkan menilai klaim Trump sebagai upaya untuk menenangkan pasar global yang tengah terguncang akibat konflik berkepanjangan.
Konflik AS-Iran berpengaruh besar terhadap harga minyak dunia, yang cenderung naik saat ketegangan meningkat.
Kawasan Timur Tengah menjadi lebih tidak stabil, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20% distribusi minyak global.
Investor global cenderung bersikap hati-hati, memicu volatilitas di pasar saham dan mata uang.
Organisasi internasional seperti PBB terus mendorong kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan guna mencegah konflik terbuka yang lebih luas.
Situasi terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam fase penuh ketidakpercayaan. Perbedaan persepsi terkait tawaran damai membuat peluang tercapainya kesepakatan semakin kecil dalam waktu dekat.
Jika tidak ada terobosan diplomasi yang nyata, konflik ini berpotensi terus berlanjut dan memberi dampak luas, tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga stabilitas global.
Editor : Purnawarman