Festival Literasi Muhammadiyah di Mataram: Dari Buku, Media Digital, hingga Jurnalis Muda

Selain itu, penulisan Sejarah Muhammadiyah NTB kini memasuki tahap finalisasi. Proyek yang sudah berjalan lebih dari setahun ini melibatkan 10 penulis dari PP Muhammadiyah untuk menyusun draft sejarah.
Tak kalah penting, Tim Heritage Muhammadiyah tengah melakukan penelusuran jejak sejarah di Labuan Haji. Salah satu temuan penting berupa sertifikat pengakuan kepengurusan Muhammadiyah NTB tahun 1930 yang menjadi bukti autentik keberadaan Muhammadiyah sejak masa kolonial.
“Sebagai bentuk komitmen kolektif dalam membangun ekosistem pers yang berintegritas dan bernafaskan nilai-nilai persyarikatan, nanti kami akan melakukan Deklarasi Aliansi Jurnalis Muhammadiyah,” tambah Yusron.
Ketua PWM NTB, H. Falahuddin, menegaskan pentingnya literasi dalam dakwah Muhammadiyah sejak awal berdirinya oleh KH Ahmad Dahlan.
“Majelis Pustaka adalah satu dari empat majelis pertama yang dibentuk. Pustaka berarti buku, dan buku adalah jantung literasi. Maka tidak boleh dianaktirikan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Prof. Dadang Kahmad yang menekankan pentingnya adaptasi dakwah Muhammadiyah dengan perkembangan zaman.
“Ayat pertama yang diterima Rasulullah adalah iqra’. Kehidupan dimulai dengan membaca. Maka dakwah kita harus menyesuaikan dengan tren digital agar tetap relevan,” tuturnya.
Festival ini juga menghadirkan workshop penulisan jurnalistik, literasi digital, dan sejarah lokal Muhammadiyah.
Aliansi Jurnalis Muhammadiyah NTB nantinya diharapkan bisa menjadi wadah kaderisasi jurnalis muda berbasis nilai persyarikatan.
Muhammadiyah NTB berkomitmen memperkuat literasi digital untuk menghadapi era disrupsi media sosial yang rawan hoaks.
Ke depan, MPI PWM NTB akan menggelar program Muhammadiyah Media Center sebagai pusat data, dokumentasi, dan publikasi.
Editor : Purnawarman