Serangan Udara Iran Picu Kepanikan di Gedung Parlemen Israel
YERUSALEM, iNewsLombok.id – Situasi mencekam melanda pusat pemerintahan Israel setelah serangan balasan dari Iran memicu kepanikan di Gedung Parlemen Israel atau Knesset. Sirene peringatan udara yang meraung keras memaksa para anggota parlemen menghentikan aktivitas dan segera mencari perlindungan.
Peristiwa dramatis ini terjadi saat sidang pleno tengah berlangsung dengan agenda penting, yakni pembahasan anggaran negara. Namun, suasana berubah drastis ketika alarm bahaya berbunyi.
Berdasarkan laporan media lokal, agenda pembahasan yang krusial tersebut langsung dihentikan seketika. Bahkan, siaran langsung sidang yang disiarkan secara nasional tiba-tiba terputus, memicu kekhawatiran publik.
Para anggota parlemen terlihat bergegas meninggalkan ruang sidang. Mereka mengikuti prosedur keamanan dengan menuju bunker atau ruang perlindungan bawah tanah yang telah disiapkan untuk menghadapi serangan udara.
Serangan yang diluncurkan Iran disebut sebagai bagian dari eskalasi konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Suara sirene yang menggema di Yerusalem menandakan sistem pertahanan udara Israel sedang bekerja untuk menghalau ancaman yang masuk.
Pemerintah Israel pun langsung mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat.
Warga diminta tetap berada di dekat tempat perlindungan hingga kondisi dinyatakan aman oleh otoritas militer.
Knesset merupakan lembaga legislatif Israel yang beranggotakan 120 orang dan menjadi pusat pengambilan keputusan politik negara tersebut.
Israel memiliki sistem pertahanan udara canggih seperti Iron Dome, yang dirancang untuk mencegat roket dan rudal jarak pendek.
Ketegangan Iran–Israel meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait isu geopolitik, nuklir, dan konflik proksi di kawasan Timur Tengah.
Dalam kondisi darurat, Israel memiliki jaringan bunker publik dan fasilitas perlindungan yang tersebar luas, termasuk di gedung pemerintahan.
Penghentian sidang parlemen akibat serangan udara tergolong jarang terjadi, menunjukkan tingkat ancaman yang serius
Editor : Purnawarman